TEKNOKES INDO

TEKNOKES INDO

AKSES VASKULAR AV Shunt / AV Fistula Edukasi Pasien, Prosedur Pemeliharaan, dan Asuhan Keperawatan Hemodialisis

AKSES VASKULAR AV Shunt / AV Fistula

Edukasi Pasien, Prosedur Pemeliharaan, dan Asuhan Keperawatan Hemodialisis

1. Apa itu AV Shunt / AV Fistula?

  • AV fistula adalah hubungan yang dibuat secara operasi antara arteri dan vena, biasanya di lengan, sehingga vena mengalami peningkatan aliran dan membesar untuk menjadi akses hemodialisis.

  • Pada hemodialisis, dua jarum digunakan: satu untuk mengambil darah menuju mesin dan satu untuk mengembalikan darah ke pasien.

  • Lokasi umum: radiocephalic (pergelangan), brachiocephalic (siku/lengan atas), atau brachiobasilic sesuai kondisi pembuluh darah.

  • AV fistula umumnya menjadi pilihan akses jangka panjang karena lebih tahan lama dan risiko infeksi lebih rendah dibanding kateter vena sentral.

2. Kelebihan dan Kekurangan AV Fistula

Kelebihan:

  • Lebih rendah risiko infeksi dan trombosis dibanding kateter vena sentral.

  • Umumnya lebih awet bila maturasi dan perawatan baik.

  • Aliran darah untuk hemodialisis dapat baik setelah matur.

  • Tidak ada benda/prostesis buatan yang menetap seperti pada graft.

Kekurangan / Keterbatasan:

  • Memerlukan waktu untuk maturasi sebelum dapat ditusuk.

  • Dapat gagal maturasi atau mengalami stenosis/trombosis.

  • Memerlukan pembuluh darah yang memadai dan perencanaan lebih awal.

  • Dapat terjadi aneurisma/pseudoaneurisma, steal syndrome, infeksi, perdarahan, atau masalah aliran.

3. Standar Evaluasi Klinis: Kriteria Maturasi "Rule of 6s" (KDOQI)

  • 6 Minggu: Waktu maturasi minimal pasca-operasi.

  • 600 ml/mnt: Target aliran darah minimal (blood flow).

  • 6 mm: Diameter minimal pembuluh vena.

  • < 6 mm: Kedalaman maksimal dari permukaan kulit.

Prosedur Pemasangan AV Fistula (Gambaran Umum)

  1. Penilaian & pemetaan pembuluh.

  2. Persiapan pasien & informed consent.

  3. Anestesi dan antisepsis area operasi.

  4. Arteri & vena diidentifikasi.

  5. Arteri dan vena disambungkan (anastomosis).

  6. Aliran diperiksa: thrill/bruit & perfusi tangan.

  7. Luka ditutup dan edukasi pascaoperasi. Catatan: teknik operasi mengikuti dokter bedah/akses vaskular & kebijakan RS.

4. Kapan AV Fistula Bisa Mulai Dipakai?

  • Umumnya sekitar 4–8 minggu.

  • Waktu maturasi bervariasi; beberapa fistula memerlukan 6–12 minggu atau lebih.

  • Jangan menentukan penggunaan hanya berdasarkan umur fistula.

  • Evaluasi dilakukan oleh tim berpengalaman: pemeriksaan fisik (thrill/bruit, diameter, kedalaman, aliran) dan bila perlu USG Doppler.

  • KDOQI menyebut evaluasi maturasi dapat dilakukan sekitar 4 minggu; USG dapat membantu bila pemeriksaan klinis meragukan.

  • Tanda siap pakai: thrill/bruit baik, vena cukup berkembang, aliran adekuat, dan tidak ada komplikasi.

  • Keputusan akhir: oleh tim HD/akses vaskular sesuai kondisi pasien.

5. Pemeriksaan AV Fistula Sebelum Kanulasi

  • LOOK (lihat): warna kulit, kemerahan, edema, luka, aneurisma/pseudoaneurisma, perdarahan.

  • LISTEN (dengar): bruit dengan stetoskop; perubahan bruit perlu diwaspadai.

  • FEEL (raba): thrill/buzzing; bandingkan dengan kondisi biasanya.

  • CHECK PERFUSION: suhu, warna, nyeri, kesemutan, kekuatan tangan, dan tanda iskemia.

  • Pastikan tidak ada tanda infeksi atau trombosis; bila ada kelainan, evaluasi dan laporkan sebelum kanulasi.

  • THRILL + BRUIT = petunjuk aliran akses.

6. Prinsip Kanulasi Saat Hemodialisis

  • Kanulasi dilakukan oleh petugas terlatih sesuai SOP unit HD.

  • Gunakan teknik aseptik/antisepsis sesuai kebijakan fasilitas.

  • Rotasi lokasi tusukan (mis. rope-ladder) untuk mengurangi kerusakan berulang pada satu titik; teknik buttonhole hanya pada indikasi dan protokol yang sesuai.

  • Periksa tekanan, aliran, nyeri, perdarahan, dan kondisi kulit selama dialisis.

  • Setelah jarum dilepas, lakukan penekanan yang tepat sampai hemostasis; jangan menekan terlalu kuat hingga mengganggu aliran fistula.

7. Perawatan Akses AV Fistula Sehari-hari

  • Periksa fistula setiap hari: rasa getaran/thrill, perubahan warna, bengkak, nyeri, kemerahan, atau perdarahan.

  • Jaga kulit tetap bersih dan kering; setelah luka operasi sembuh, rawat kulit sesuai anjuran.

  • Jaga lengan tetap terlindungi dari benturan/tekanan berlebihan.

  • Jangan mengukur tekanan darah, mengambil darah, atau memasang infus pada lengan AV fistula kecuali ada instruksi khusus dari tim yang merawat.

  • Hindari pakaian/perban/jam tangan yang terlalu ketat pada lengan akses.

  • Latihan tangan/bola dapat diberikan setelah fase pascaoperasi sesuai instruksi tim; hentikan bila nyeri atau keluhan memburuk.

8. Edukasi Pasien & Keluarga

  • Jaga AV fistula sebagai “lifeline” untuk hemodialisis.

  • Kenali thrill: lakukan pemeriksaan rutin sesuai edukasi unit HD; perubahan/hilangnya thrill → segera hubungi unit HD.

  • Jangan menggaruk/mengupas keropeng pada bekas tusukan.

  • Jangan membawa beban berat/aktivitas yang menekan langsung area akses tanpa arahan tenaga kesehatan.

  • Minum dan pembatasan cairan mengikuti program dokter/dietisien; hindari dehidrasi.

  • Selalu beritahu petugas kesehatan bahwa pasien memiliki AV fistula dan tunjukkan lengan akses.

  • Siapkan nomor kontak unit HD dan pahami tindakan darurat bila terjadi perdarahan.

  • Jika perdarahan deras dari akses: tekan kuat sesuai instruksi unit HD dan cari pertolongan darurat segera.

9. Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

  • Trombosis / akses tidak berfungsi: Thrill hilang/melemah, bruit berubah → evaluasi segera.

  • Stenosis: Aliran/clearance menurun, perdarahan pascadialisis memanjang, edema; perlu evaluasi.

  • Infeksi: Kemerahan, panas, nyeri, bengkak, demam, sekret.

  • Steal syndrome / iskemia: Tangan dingin/pucat, nyeri, baal/kesemutan, kelemahan.

  • Aneurisma / pseudoaneurisma: Benjolan membesar, kulit menipis/mengkilat, risiko perdarahan.

  • Perdarahan: Perdarahan setelah tusukan atau perdarahan spontan → keadaan gawat bila banyak/tidak berhenti.

10. Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera Melapor?

SEGERA HUBUNGI TIM HD / DOKTER jika:

  • Thrill tiba-tiba hilang atau jauh melemah.

  • Tangan mendadak dingin, pucat/kebiruan, nyeri atau kebas.

  • Kemerahan/panas/bengkak/nyeri + demam.

  • Benjolan akses membesar cepat atau kulit sangat tipis.

  • Perdarahan yang banyak atau sulit berhenti.

  • Bengkak lengan yang baru/semakin berat.

PRINSIP KESELAMATAN:

  • Jangan menunggu jadwal dialisis berikutnya bila tanda bahaya muncul.

  • Perdarahan hebat dari AV fistula merupakan keadaan darurat.

  • Ikuti instruksi pertolongan pertama yang sudah diberikan oleh unit HD/RS.

11. Asuhan Keperawatan: Pengkajian

  • Data subjektif: nyeri, kesemutan/baal, rasa dingin, rasa berdenyut/thrill berubah, keluhan saat dialisis, riwayat perdarahan/infeksi.

  • Data objektif: lokasi & jenis AV fistula, kondisi luka/ kulit, edema, suhu & warna tangan, CRT/perfusi, nadi perifer, thrill, bruit, tanda infeksi, kondisi aneurisma/pseudoaneurisma.

  • Parameter hemodialisis: blood flow, tekanan arterial/venous, adekuasi dialisis, waktu hemostasis pascadialisis, kejadian infiltrasi/hematoma.

  • Riwayat: operasi AVF, tanggal pembuatan, riwayat revisi, stenosis/trombosis, obat yang meningkatkan risiko perdarahan.

12. Contoh Diagnosis Keperawatan (Sesuaikan SDKI)

  • Risiko perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan perubahan aliran vaskular/komplikasi akses.

  • Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif/kanulasi berulang.

  • Nyeri akut berhubungan dengan tindakan kanulasi atau komplikasi akses.

  • Risiko perdarahan berhubungan dengan akses vaskular dan tindakan kanulasi.

  • Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang perawatan AV fistula.

  • Diagnosis akhir harus berdasarkan data pengkajian dan terminologi SDKI yang berlaku di RS.

13. Intervensi Keperawatan Utama

  • Monitor status neurovaskular ekstremitas: warna, suhu, CRT, nyeri, sensasi, motorik, nadi sesuai kondisi.

  • Monitor thrill dan bruit serta perubahan dibandingkan kondisi sebelumnya.

  • Observasi tanda infeksi dan perdarahan; lakukan tindakan sesuai SOP bila ditemukan kelainan.

  • Pertahankan prinsip aseptik saat perawatan/kanulasi sesuai SOP.

  • Hindari tekanan eksternal pada lengan akses; pastikan identifikasi lengan AV fistula jelas.

  • Kolaborasi dengan dokter/tim akses vaskular bila ada tanda trombosis, stenosis, steal syndrome, infeksi, aneurisma, atau perdarahan.

  • Berikan edukasi pasien/keluarga dan evaluasi kembali pemahaman.

14. Evaluasi Keperawatan

  • Perfusi baik: Tangan hangat, warna sesuai, keluhan minimal.

  • Akses berfungsi: Thrill/bruit terdeteksi sesuai kondisi.

  • Tidak ada tanda komplikasi: Tidak ada infeksi/perdarahan bermakna.

  • Pasien mampu menyebutkan cara melindungi lengan AV fistula.

  • Pasien mampu mengenali tanda bahaya dan tahu kapan harus menghubungi unit HD.

  • Pasien mengikuti jadwal kontrol dan pemeriksaan maturasi/akses sesuai rencana.

  • Dokumentasi: hasil pengkajian, edukasi, tindakan, respons pasien, dan komunikasi/rujukan bila ada masalah.

15. Referensi Utama

  • National Kidney Foundation (NKF). KDOQI Clinical Practice Guideline for Vascular Access: 2019 Update. American Journal of Kidney Diseases, 2020.

  • National Kidney Foundation. KDOQI Vascular Access Guidelines and Implementation Tools.

  • Cambridge University Hospitals. Arterio Venous Fistula (AVF) as an access for haemodialysis; Care of AVF after surgery.

  • NHS / NHS Trust patient education resources on AV fistula care and dialysis complications.

Posting Komentar

0 Komentar